Monolog Dini Hari

Rasanya, dini hari tak pernah bosan-bosannya mengundangku untuk bermonolog sendiri. Dan kali ini, pikiranku bergelayut dalam memori yang tersimpan sejak pagi. Kau tau tidak, apa saja hal yang menyedihkan di dunia ini? Satu: orang berilmu yang enggan turun berjuang; lalu, dua: orang yang berjuang tanpa ilmu. Tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah aku; tak berilmu dan tak mau berjuang (bersama orang-orang yang mengalami ketidakadilan). Lalu, hidupku ini buat apa?

sidang-ajudikasi-kip

Empat Puluh Derajat Celcius

Kau bingung sekarang? Atau masih merencana kelicikan lain di belakang? Kau bisa membius rakyat lagi di depan kantor pemerintah kota seperti saat itu, tapi kau tak bisa membius semangat mereka memperjuangkan tanahnya. Kau bisa melukai seorang bapak hingga lumpuh seperti tiga tahun yang lalu, tapi kau tak bisa melumpuhkan keberanian mereka yang melawanmu.

Siang ini; empat puluh derajat celcius, mediasi yang gagal, sidang ajudikasi, dan pihak termohon yang tidak memiliki dasar hukum. Tuan siap untuk melihat perjuangan rakyat selanjutnya?

Di belakang meja hijau,
4 November 2015.

urun-dana

Urun Dana dan Sepenggal Cerita

Tuhan memang mengirimkan bantuan dengan hal-hal yang tidak kita duga. Hari itu, sudah empat hari terhitung sejak kami mulai melakukan urun dana di salah satu plattform daring. Perjanjiannya adalah, ketika tidak ada donasi serupiah pun yang masuk hingga hari ketujuh, berarti program sosial kami secara otomatis akan dihapus. Di tengah kegelisahan itu –karena sudah empat hari tidak ada tanda-tanda adanya donasi– saya mulai pesimis. Padahal ini tanggung jawab yang diberikan kepada saya, tetapi sepertinya saya tidak melakukannya dengan baik. Hari itu pula, saya sempat berucap, “Ya Tuhan, semoga Engkau melancarkan niat baik kami.”
Baca lebih lanjut

mahatma gandhi quote

Menanak Diri dalam Belanga Hidup

Sudah dua puluh satu. Tapi sayangnya, hati masih penuh dengan rasa iri pun cemburu, mulut masih mengumbar cerca, melebih-lebihkan serta mengurangi yang nyata. Ah, sudah dua puluh satu. Tapi sayangnya, perbuatan kita masih penuh cela, abdi kita penuh riya, keberadaan kita tak ada manfaatnya dan hanya diukur dari seberapa banyak unggahan selfie di dunia maya. Dua puluh satu, lalu, kapan kita bisa bersikap merendah dan bijaksana –serta sepenuhnya menjadi manusia–?

Langgar, 21 Agustus 2015.

HAM dan Hari-Hari Omong Kosong

Saya selalu penasaran mengenai pemikiran-pemikiran para aktivis LSM kebanyakan yang –katanya, sesuai yang saya diskusikan dan saya pelajari– berpikir a la zero sum game; kritis, tapi juga ompong, terlalu kiri, berjangka pendek dan tidak melihat permasalahan secara universal. Saya juga selalu penasaran mengenai apa, mengapa, bagaimana dan siapa yang sebenarnya mereka perjuangkan. Katanya, aktivis LSM (dalam hal ini, aktivis hak asasi manusia) hanya berkoar ketika ada warga negara asing yang divonis hukuman mati, tetapi diam membisu ketika direnggutnya hak hidup para TKI. Benarkah demikian? Ah, saya ini orangnya kepo sekali, dan dengan berbekal rasa kepo itulah, saya berangkat ke salah satu desa di Mojokerto, bertemu dengan orang-orang baru untuk melakukan diskusi intensif dan juga investigasi lapangan selama seminggu mengenai hak asasi manusia ini.
Baca lebih lanjut

Dua Puluh Satu Titik Enam Belas

“And I’m sitting in a circle, telling my secrets to strangers..” – Passenger, Community Centre

Waktu menunjukkan pukul 21.16 WIB. Hari itu, di tengah sendunya malam dan gerimis hujan, aku tengah bersenda gurau dengan teman-temanku usai menyantap makan malam kami yang sederhana. Seperti biasa, pembicaraan-pembicaraan absurd memang mudah sekali mengundang gelak tawa. Tiba-tiba, layar smartphone-ku menyala dan dengan cepat mengalihkan perhatianku. Sebuah pesan singkat masuk ..dan cukup mengejutkan. Pesan singkat itu, dari seseorang yang sudah tiga tahun tak pernah kutemui. Dari seseorang yang sudah lama sekali tak pernah menjalin komunikasi denganku. Dan hal yang paling mengherankan adalah pesan singkatnya yang berisi, “May, cepet selesein kuliah, biar aku bisa melamarmu.” Aku sempat terdiam dan mengeja ulang kata per katanya. Mungkin dia hanya bercanda –atau setidaknya yang aku percayai adalah dia memang sedang bercanda. Ah, atau mungkin saja telpon genggamnya sedang dibajak, seperti tren kekinian yang sedang marak. Tanpa membalasnya, aku kemudian meletakkan kembali smartphone-ku ke atas meja dan bergabung lagi dengan riuh canda tawa bersama teman-teman kampusku.
Baca lebih lanjut

Surat untuk (Calon) Anakku

Anakku sayang, bagaimana kabarmu? Ah, Bunda terlalu membosankan ya karena selalu bertanya tentang keadaanmu? Itulah Bunda, Nak, khawatir bila kamu tidak sedang baik-baik saja, dan selalu ingin tahu kabarmu bagaimana, padahal kamu bahkan belum ada saat Bunda sedang menulis ini. Percayalah, meski demikian, Bunda sudah memikirkan kehadiranmu, wahai malaikat kecilku.

Hari ini Bunda berusia 20 tahun, dan entah mengapa ada hal-hal yang ingin Bunda sampaikan untukmu. Mungkin kamu akan terlalu malas untuk membacanya bila Bunda katakan bahwa tulisan ini berisi nasehat-nasehat untukmu, maka anggaplah ini sebagai surat cinta, surat yang Bunda harap akan kamu baca dengan wajah penuh ceria. Seumur hidup, inilah kali pertama Bunda menulis surat cinta, maka Bunda harap kamu menikmatinya walau surat ini tak sebanding dengan karya-karya sastra.
Baca lebih lanjut